Website Belum Ramah HP: Cara Mengeceknya Sekarang Setelah Alat Tes Google Ditutup
Banyak panduan masih menyuruh kamu membuka Mobile-Friendly Test Google, padahal alat itu sudah ditutup. Ini cara mengeceknya sekarang, plus angka batas yang benar-benar dipakai untuk menilai.
Cara mengecek website ramah HP sekarang bukan lagi lewat Mobile-Friendly Test Google — alat itu dipensiunkan pada 4 Desember 2023 bersama laporan Mobile Usability di Search Console. Penggantinya adalah audit SEO di Lighthouse (tersedia gratis di dalam Chrome dan di PageSpeed Insights), yang memakai tiga batas konkret: tombol dan tautan minimal 48 x 48 piksel dengan jarak antar tombol minimal 8 piksel, minimal 60% teks halaman berukuran 12 piksel ke atas, dan halaman harus punya tag viewport. Di luar itu, tes paling jujur tetap membuka situsmu sendiri di HP, memakai jaringan seluler, sambil mencoba benar-benar memesan.
Ada satu hal yang membuat topik ini lebih mendesak daripada dulu. Sejak 5 Juli 2024, Google merayapi seluruh situs memakai perayap versi ponsel, tanpa pengecualian. Artinya isi yang tidak bisa diakses dari HP bukan cuma tidak nyaman dibaca — isi itu tidak dilihat Google sama sekali.
Kenapa panduan yang kamu baca kemarin sudah tidak berlaku?
Kalau kamu mencari cara mengecek website ramah HP dalam bahasa Indonesia, sebagian besar hasil di halaman pertama masih menyuruh membuka alamat tes mobile-friendly milik Google, lalu menempel URL dan menunggu tulisan "Passed". Alamat itu sudah tidak melakukan apa-apa; sekarang ia hanya mengarahkan pembaca ke dokumentasi Lighthouse.
Yang dipensiunkan ada tiga sekaligus: laporan Mobile Usability di Search Console, alat Mobile-Friendly Test, dan API-nya. Kronologinya dicatat Search Engine Land saat pengumumannya keluar. Alasan Google: dalam sepuluh tahun sejak alat itu dibuat, sudah banyak alat lain yang lebih lengkap, dan penilaian pengalaman halaman sekarang tidak lagi berdiri sendiri sebagai label "ramah HP atau tidak".
Konsekuensi praktisnya buat kamu: tidak ada lagi lencana lulus-tidak-lulus dari Google. Yang ada adalah beberapa pemeriksaan terpisah yang harus kamu baca sendiri. Itu terdengar lebih repot, tapi sebenarnya lebih berguna — dulu banyak situs mendapat status "Passed" padahal tombol pesannya tetap sulit ditekan.
Ramah HP dan cepat itu dua hal berbeda
Ini kekeliruan yang paling sering kami temui. Pemilik bisnis mengecek kecepatan, angkanya hijau, lalu menyimpulkan situsnya beres di HP. Padahal keduanya mengukur hal yang tidak berhubungan.
| Pertanyaan | Termasuk urusan | Contoh gejalanya |
|---|---|---|
| Berapa lama halaman muncul? | Kecepatan | Layar putih tiga detik sebelum apa pun terlihat |
| Apakah isinya muat di layar tanpa digeser ke samping? | Ramah HP | Tabel harga melebar keluar layar |
| Apakah tombolnya bisa ditekan tanpa salah? | Ramah HP | Tombol WhatsApp menempel ke tautan Instagram |
| Apakah tulisannya bisa dibaca tanpa dizoom? | Ramah HP | Deskripsi layanan berukuran 10 piksel |
| Apakah isi halaman meloncat saat dibaca? | Kecepatan | Banner muncul belakangan dan menggeser tombol |
| Apakah form bisa diisi dengan jempol? | Ramah HP | Kolom nomor telepon memunculkan papan ketik huruf |
Situs bisa lulus semua ukuran kecepatan dan tetap gagal menghasilkan satu chat pun karena baris kedua sampai keenam. Kalau kamu belum pernah mengecek sisi kecepatannya sama sekali, angka patokan dan cara membacanya kami tulis terpisah di website lemot dan cara tahu berapa pelanggan yang hilang.
Angka batas yang sebenarnya dipakai untuk menilai
Bagian ini yang hampir tidak pernah ada di panduan berbahasa Indonesia. Kebanyakan menulis "buat tombol lebih besar" tanpa menyebut sebesar apa. Padahal angkanya terbuka di dokumentasi Lighthouse.
| Yang diperiksa | Batas lulus | Kenapa itu batasnya |
|---|---|---|
| Ukuran tombol dan tautan | 48 x 48 piksel | Target sebesar ini tidak pernah gagal audit; ukuran jempol orang dewasa jadi acuannya |
| Jarak antar tombol | Minimal 8 piksel, horizontal dan vertikal | Supaya jari tidak mendarat di tautan sebelahnya |
| Ukuran teks | Minimal 60% teks halaman berukuran 12 piksel ke atas | Di bawah 12 piksel orang harus mencubit layar untuk membaca |
| Tag viewport | Harus ada di kode halaman | Tanpa ini, HP menampilkan versi desktop yang dikecilkan paksa |
Detail lengkapnya ada di dokumentasi resmi soal ukuran area sentuh dan ukuran font yang terbaca. Dua catatan yang berguna dari sana. Pertama, tombol kecil tidak otomatis gagal — yang gagal adalah tombol kecil yang berdempetan dengan tombol lain. Kalau ikonmu memang harus kecil, tambahkan padding, bukan memperbesar ikonnya. Kedua, kalau tag viewport tidak ada, dua pemeriksaan lain ikut dilaporkan gagal walaupun ukurannya sebenarnya wajar. Jadi periksa viewport lebih dulu sebelum panik dengan sisanya.
Urutan pengecekan yang bisa kamu lakukan dalam 20 menit
Empat langkah pertama tidak butuh keahlian teknis apa pun. Kerjakan berurutan.
- Buka situsmu di HP sendiri, tapi lewat mode penyamaran dan matikan WiFi. Pakai kuota. Ini menghilangkan cache dan mendekati kondisi calon pelanggan yang baru pertama kali membuka.
- Coba selesaikan satu tugas nyata, bukan sekadar melihat-lihat. Cari harga, lalu tekan tombol pesan atau isi form sampai terkirim. Catat setiap kali kamu harus mencubit layar, menggeser ke samping, atau menekan dua kali karena meleset. Setiap catatan itu adalah satu calon pelanggan yang pergi.
- Buka PageSpeed Insights, masukkan URL halaman layanan — bukan beranda — lalu gulir ke bagian SEO. Di situ ada dua baris yang kita bahas di atas: ukuran area sentuh dan ukuran font. Klik untuk melihat elemen mana yang bermasalah.
- Ulangi untuk tiga halaman terpenting. Beranda biasanya paling dirawat dan paling menyesatkan. Halaman layanan dan halaman kontak yang sering luput.
- Kalau butuh melihat banyak ukuran layar sekaligus, pakai Chrome di komputer: tekan F12, lalu klik ikon perangkat di pojok kiri panel yang muncul. Ini simulasi, jadi anggap sebagai pelengkap, bukan pengganti langkah satu.
- Cek Search Console untuk hal yang berbeda. Laporan Mobile Usability memang sudah tidak ada, tapi laporan Pengindeksan Halaman tetap penting: kalau halamanmu tidak terindeks, urusan tampilan di HP belum jadi prioritas. Cara membacanya ada di panduan Search Console untuk pemilik bisnis.
Langkah dua adalah yang paling sering dilewati dan paling banyak memberi temuan. Kami hampir selalu menemukan sesuatu di sana yang tidak muncul di alat mana pun — misalnya nomor WhatsApp yang ditulis sebagai teks biasa sehingga harus disalin manual, padahal tinggal dibuat bisa ditekan. Cara memasang dan mengujinya kami rinci di tombol WhatsApp di website.
Masalah yang paling sering muncul, dan siapa yang membetulkan
Tidak semuanya harus lewat orang teknis. Beberapa bisa kamu selesaikan sore ini.
| Gejala | Penyebab biasanya | Siapa yang membetulkan |
|---|---|---|
| Halaman bisa digeser ke kiri-kanan | Tabel, gambar, atau kotak yang lebarnya dipatok angka tetap | Orang teknis |
| Tulisan sangat kecil di seluruh halaman | Tag viewport tidak ada | Orang teknis — sering selesai dalam hitungan menit |
| Tombol pesan berdempetan dengan ikon lain | Jarak antar elemen tidak disesuaikan untuk layar kecil | Orang teknis |
| Papan ketik salah saat mengisi nomor telepon | Jenis kolom form tidak ditentukan | Orang teknis, perbaikan ringan |
| Menu tidak bisa ditutup lagi setelah dibuka | Skrip menu bentrok dengan plugin lain | Orang teknis |
| Harga atau jam buka hanya muncul di versi desktop | Blok sengaja disembunyikan di layar kecil | Kamu — putuskan mana yang harus tetap tampil |
| Foto menu atau katalog buram saat dibuka di HP | Gambar diunggah dalam ukuran kecil lalu dipaksa melar | Kamu — unggah ulang versi besarnya |
Baris keenam layak diperhatikan lebih. Menyembunyikan blok tertentu di layar kecil dulu dianggap trik rapi. Sejak seluruh perayapan memakai versi ponsel, isi yang disembunyikan dari HP berisiko tidak terhitung sama sekali oleh Google. Kalau daftar layanan atau area jangkauanmu ada di blok yang hilang di HP, itu bukan urusan tampilan lagi — itu alasan halamanmu bisa tidak muncul untuk pencarian yang relevan. Sebab-sebab lain yang mirip kami kumpulkan di kenapa website tidak muncul di Google.
Kapan ini bukan prioritasmu
Ada beberapa kondisi di mana mengejar urusan ini sekarang justru membuang tenaga.
Situsmu sudah lulus semua dan pengunjungnya tetap sedikit. Kalau tampilan di HP sudah wajar, masalahmu ada di ditemukan-atau-tidak, bukan di tampilan. Tenaga berikutnya lebih baik dipakai untuk isi halaman dan kata kunci.
Pelangganmu memesan lewat jalur lain. Kalau order datang dari Instagram atau referensi dan situs cuma jadi alamat, perbaiki jalur yang sudah menghasilkan lebih dulu.
Situsnya sudah dua kali ditambal dan rusak lagi. Ada titik di mana memperbaiki tema lama yang penuh plugin usang lebih mahal daripada membangun ulang. Tandanya: tidak ada yang berani menyentuh temanya karena takut ada yang jebol. Kalau kondisimu begitu, pertimbangan dan biayanya kami buka apa adanya di halaman pembuatan website di Jogja.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah website yang tidak ramah HP pasti tidak bisa masuk Google?
Tidak sedrastis itu. Yang tidak terindeks adalah isi yang benar-benar tidak bisa diakses dari perangkat ponsel. Situs yang tampilannya berantakan tapi isinya tetap terbaca masih bisa terindeks — hanya saja pengunjungnya lebih cepat pergi, dan itu tetap merugikan dengan cara lain.
Responsif dan ramah HP itu sama?
Tidak. Responsif berarti tata letaknya ikut menyesuaikan lebar layar. Ramah HP berarti orang benar-benar bisa menyelesaikan sesuatu di sana. Situs responsif dengan tombol pesan berukuran 20 piksel tetap gagal di dunia nyata.
Kenapa hasil tes di komputer berbeda dengan yang saya lihat di HP?
Karena mode perangkat di Chrome hanya mensimulasikan ukuran layar, bukan kecepatan prosesor HP, jaringan seluler, atau papan ketik yang muncul menutupi setengah layar. Untuk keputusan akhir, percayai HP asli.
Apakah punya aplikasi bisa menggantikan website yang ramah HP?
Untuk bisnis lokal, hampir selalu tidak. Orang yang baru pertama mencari layananmu di Google tidak akan mengunduh aplikasi lebih dulu. Aplikasi berguna untuk pelanggan yang sudah berulang, bukan untuk menangkap yang baru.
Saya pakai pembuat situs siap pakai, apakah otomatis aman?
Sebagian besar templatnya memang sudah responsif dari sananya. Yang sering merusaknya adalah tambahan setelahnya: tabel harga yang ditempel dari spreadsheet, gambar berisi teks, atau widget dari pihak ketiga. Jadi tetap lakukan langkah satu dan dua di atas setelah setiap perubahan besar.
Seberapa sering pengecekan ini perlu diulang?
Sekali setelah setiap perubahan besar, dan sekali tiap tiga bulan kalau tidak ada perubahan. Situs melar pelan-pelan tanpa disadari — satu plugin baru, satu banner promo, dan tata letaknya bergeser. Di tempat kami, pemeriksaan seperti ini masuk ke pekerjaan teknis rutin dalam paket SEO kami, karena hasilnya cenderung merosot lagi kalau tidak dijaga.
Langkah berikutnya
Kalau kamu sudah mencoba langkah-langkah di atas dan tidak yakin mana yang benar-benar merugikan — atau hasilnya saling bertentangan antara alat dan HP-mu sendiri — kirim alamat situsmu lewat audit gratis. Kami buka di beberapa ukuran layar, coba selesaikan satu pemesanan seperti calon pelangganmu, lalu balas dengan daftar pendek: apa yang perlu dibetulkan, oleh siapa, dan mana yang sebetulnya bisa dibiarkan dulu.